100 Hari Setelah Aku Mati Part 115 : Mimpi-Mimpi Risa

0
86
bukukita.com

Malam itu setelah jalan-jalan aku dengan risa di alun-alun kidul, aku pun asik di kamar dan menikmati suasana lama yang sudah lama tidak aku rasakan di kamar ini. Aku duduk di meja belajar dan entah kenapa rasa ngantuk aku hilang dan malah berganti dengan rasa debar untuk esok pagi saat harus bertemu om hamzah. Risa sudah pulang beberapa jam lalu sedangkan sekarang sudah pukul setengah 2 pagi dan bukan nya tidur aku malah asik membaca buku harian yang dulu pernah di berikan risa. Aku sudah khatam membaca lembar demi lembar buku harian tebal ini, namun tidak ada bosannya. Beberapa puisi dia tulis di beberapa lembar buku ini, tahun dan tanggal yang tertua dari puisi itu adalah tahun 2002 dan tahun dimana kami baru menginjak kelas 1 SMP. Aku membuka halaman demi halaman dan seolah aku merasakan setiap peristiwa yang tertulis di buku ini.

Beberapa bagian yang aku anggap menarik aku tempeli dengan label dan aku sering tertawa ketika membaca buku ini dan ternyata tidak hanya secara lisan bahkan dalam sebuah tulisan risa tetap cerewet. Dalam buku setebal kamus ini risa menulis detail-detail di lengkapi foto yang dia cetak dan di tempelkan pada buku itu. Tangan itu menunjukan foto berukuran kecil mungkin seperempat dari ukuran kartu pos. Foto itu menunjukan aku sedang tidur di sofa dengan coretan seperti kumis kucing di bawah hidung. Aku teringat dulu anak jail ini pernah mencorat-coret wajah aku ketika ketiduran di sofa. Aku tidak tau jika dia memfotonya. Dan bagian tulisan yang menyebalkan sudah aku baca, dimana mungkin aku lupa menceritakan jika risa pernah mempunyai kucing persia. Dan sialnya risa menamai kucing bantet itu dengan nama rizal. Seperti hal nya dengan nama aku kucing itu di beri nama. Aku sudah protes berkali-kali agar mengganti nama kucing itu menjadi nama yang lebih lumrah untuk seekor kucing.

Namun bukan risa namanya jika aku tidak mengotot dan dia tetap ingin menggunakan nama rizal untuk kucingnya. Bahkan dia bilang jika perlu si rizal akan di buatkan akte kelahiran sama kartu keluarga supaya sah namannya. Namun waktu itu si rizal mengalami tragedi tabrak lari ketika dia lepas dari kandangnya dan menyebrang jalan. Akhirnya rizal kucing risa di makamkan di halam belakang rumah risa dengan sebiah nisan dari papan kayu bertuliskan rizal. Sejak peristiwa itu risa pun merasa shock tidak mau makan dan tidak mau di ajak bicara. Kerjaannya hanya menangis saja di kamar nya dan butuh waktu sebulan sampai kejiwaannya membaik. Aku hanya bisa tepok jidat berkali-kali. Aku tidak ada hentinya tertawa membaca buku harian itu, ada saja ulah risa yang dia tulis dengan dramatis seolah itu merupakan peristiwa penting abad ini yang harus di catat dalam sejarah padahal itu merupakan hal sepele yang tidak perlu bahkan sangat tidak penting untuk di ingat.

Dan ketika memperingati hari aids sedunia dimana hari ini peringatan di kampus alhamdulillah lancar dan sekarang sudah di kamar. Memperingati hari jerawat sedunia di sebelah itu ada foto wajah risa yang di tumbuhi satu jerawat namun terlihat menonjol. Aku sampai lupa waktu karena membaca tulisan yang semakin ngawur saja isinya namun meski begitu bukan berarti tidak ada sisi serius dalam tulisan ini. Beberapa tulisan yang di tulis risa mengisyaratkan secara eksplisit tentang mimpi-mimpi nya. Tentang benaknya dan apa yang menjadi komitmen dia. Dia adalah perempuan yang jenaka, tegas dan prinsipil. Seorang yang aku kagumi sekaligus sangat aku cintai. Risa merupakan orang yang aneh karena mencintai orang seperti aku.

Bahkan cara mengekspresikan cintanya terhadap sesuatu juga sering kali aneh dan dia juga termasuk orang yang cermat sekaligus nekat. Dia tanpa ragu akan menukarkan lukisan vincent van gogh dengan rainbow cake yang menurutnya itu penemuan paling muthakit yang pernah di temukan manusia. Aku melirik jam tangan sudah hampir setengah 4 dan aku belum tidur. Aku berdiri dan merebahkan diri di kasur dan aku mengecek handphone dan beberapa bbm dari risa yang ada di layar. Terakhirnya baru 5 menit yang lalu terkirim di handphone aku. Kami mengakhiri pesan singkat itu dan dalam baringan aku hanya bisa membayangkan. Ketika itu aku berfikir apa yang terjadi besok karena om hamzah sudah mengenal baik segala hal tentang aku, baik buruknya aku tentunya beliau sudah mampu mempertimbangkanya. Satu-satunya hal yang membuat aku pesimis adalah status aku yang masih seorang pengangguran. Meskipun aku belum bisa apa-apa, aku harus menyelesaikan bidang spesialis aku. Entahlah pikiran aku rasanya bercampur-campur tapi aku teringat perkataan om bowo bahwa beliau percaya pada aku dan rejeki bisa di dapat darimana saja. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here