100 Hari Setelah Aku Mati Part 114 : Hidup Baru Bagian 2

0
24
bukukita.com

Banyak lagi teman-teman aku yang hadir dan mereka semua datang di momen ini, jika aku mengingatnya lagi ada perasaan haru dan perasaan haru bertemu teman-teman yang sudah ikut membentuk pribadi aku menjadi seperti sekarang. Mereka semua mengajak aku masuk ke dalam rumah dan begitu aku masuk maka lihat lah banyak sekali hidangan yang sudah tersedia, sayur tolo, gudeg, ingkung, nasi kuning, nasi uduk dan semua makanan kesukaan aku tersaji yang sudah di gelar sedemikian rupa. Ternyata mereka semua membuat semacam sykuran kecil-kecilan untuk menyambut aku pulang. Aku sangat senang dengan penyambutan sederhana dan berarti itu. Aku mencari sosok di balik semua ini, itu dia dimana risa sedang tersenyum di belakang aku dan pasti dia yang menyiapkan semua ini dan aku tersenyum dan menghampirinya.

Aku melihat beberapa teman lain juga melakukan hal sama, andi, somad, andri dan beberapa kawan lain. Mereka semua sudah mengenakan cincin nikah dan andi merangkul aku dimana dia menunjuk risa yang tengah ngobrol dengan om bowo. Aku pelan sambil ikut memandangi risa yang tidak sadar kami jadikan bahan obrolan. Somad bilang jangan menunda-nunda lagi dan di segerakan saja. Kalian enak sudah ada kerjaan dan aku baru setengah jalan ini dan ini masih harus ngelanjutin kuliah disini, ucap aku. Aku merenungkan perkataan dari teman-teman aku dan mereka beberapa dari mereka sudah menjadi kepala rumah tangga. Mereka sudah memiliki keluarga mereka sedangkan aku malah baru berencana lamaran. Usia aku sebentar lagi 25 tahun sudah cukup dewasa. Sedangkan risa, dia tidak terpaut jauh dari umur aku dan usia matang bagi seorang perempuan untuk menikah. Dimana dia sudah lulus kuliah dan sekarang sedang mempertimbangkan beberapa pekerjaan yang sudah menawarinya.

Mereka ada benarnya ucap aku dalam hati dan beberapa saat setelah acara itu selesai dan teman-teman aku dan beberapa kerabat sudah pulang dan tinggal menyisakan keluarga dari om bowo dan risa yang masih setia membantu membereskan sisa-sisa dari acara malam itu. Aku pun bicara pada om bowo yang sedang menonton berita di tv. Aku mengajak om bowo berbicara di ruang tamu dan om bowo pun mengangguk. Aku bilang pada om bowo mengenai risa, dimana saat itu aku hanya mengangguk dan menunggu kira-kira apa yang menjadi keputusan beliau karena mau tidak mau om bowo secara tidak langsung sudah menjadi wali aku dan aku mengamati ekspresi wajah beliau yang terlihat seperti berfikir. Entah kenapa selama menunggu yang tidak seberapa lama itu rasa nya dada aku berdebar.

Om mengatakan apapun keputusan aku om bowo bilang hanya bisa mendukung aku sama seperti almarhum ayah kamu. Om bowo percaya dengan aku dan om percaya jika diri aku sudah bisa membuktikan diri. Ketika itu betapa senangnya aku ketika mendengar jawaban beliau dan aku baru saja mengantongi restu dari wali aku. Sekarang tinggal seorang lagi yaitu om hamzah begitu kata aku dalam hati. Akan tetapi diri aku harus memikirkan masa depan kamu dan nikah itu bukan main-main. Aku harus usaha lebih keras buat mandiri dan om bowo membuat lamunan aku pecah dan membuat aku berfikir kembali. Om bowo bilang jika aku sudah ambil keputusan itu membuat aku jadi ragu. Rejeki itu sudah ada yang ngatur apalagi dengan nikah akan membuka pintu rejeki yang lebih besar dan aku itu mewarisi gen dari bapak kamu dan om dengan bapak kamu bakal setuju dengan keputusan kamu.

Om bowo memberikan dorongan kepada aku dan beliau menepuk pundak aku dan menguatkan tekad aku kembali. Besok aku mau ketemu orang tua risa buat mohon doa restu. Dan om bowo bilang supaya om hamzah merestui anak gadis nya di lamar oleh aku. Ketika itu om bowo sambil mengusap kepala aku yang sedang tertunduku di bawah lututnya untuk sungkem memohon doa restu untuk hidup baru saya. Aku menyusul risa yang sedang sibuk mencuci piring kotor dan aku berjalan berjingkat dari belakang dan menutup matanya. Lalu aku dan risa bersiap dan setelah pamit kami pergi menggunakan si butut yaitu pespa kesangan warisan bapak. Sudah lama sekali aku tidak mengendarai nya dan untung si butut tiap minggu selalu di tengok oleh om bowo jadi tetap terawat. Tidak butuh waktu lama hingga kami sampai di tempat yang menjadi salah satu ikon kota jogja. Alun-alun utara disini lah kami mengingkatnya dengan nama altar dan lapangan luas yang di tengahnya berdiri dengan kokok 2 pohon beringin. Tampak di belakangnya bangunan gagah keraton ngayogyakarta hadiningrat yang tersorot lampu berwarna kuning. Kami pun menikmati suasana malam itu dan rasanya sangat syahdu. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here