100 Hari Setelah Aku Mati Part 113 : Hidup Baru

0
32
bukukita.com

Aku rasa aku harus mulai beradaptasi lagi dengan hawa panas negeri tropis ini dan baru beberapa ratus meter keringat aku bercucuran dan memakai kaos hitam di tambah jaket tebal bukanlah ide yang bagus. Sambil membawa barang bawaan aku yang banyak di kanan dan kiri aku. Suara klakson mobil mengagetkan aku sampai satu koper aku terlepas dari pegangan. Aku pun menggerutu karena aku sudah berjalan sangat minggir. Sekali lagi mobil itu membunyikan klakson yang nyaring dan aku menoleh ke arah nya dimana ada mobil berlambang H berwarna putih itu, pandangan aku terhalang oleh kaca depan berwarna gelap dari mobil itu untuk mengetahui siapa pengendara di dalam nya. Rambut panjang itu dan mata yang di hias kacamata berlensa tipis itu.

Aku sedikt kaget karena itu merupakan risa dan dia cengengesan seperti biasa sambil melambaikan tanganya dari dalam. Aku buru-buru menghampirinya supaya dia tidak berteriak-teriak lagi dan memancing perhatian warga yang melintas. Aku sudah bilang jemput di simpang lima saja. Risa bilang dengan kesal sudah jauh-jauh jemput sampe sini malah berkata seperti itu. Risa pun menyuruh aku memasukan barang-barang aku. Risa membantu aku memasukan barang-barang itu dan aku memperhatikan dia dan perasaan aneh itu tidak mau pergi bahkan setelah lama aku bersama dengan nya. Dia selalu sukses membuat dada aku terasa berdesir saat bertemu dengan nya. Tidak lama ris bilang jangan melihat dia terus dan sepertinya ris sadar bahwa aku sedang terpesona untuk ke ribuan kalinya. Aku menoyor kepalanya pelan sambil tertawa dan aku melihat ke lehernya yang disna tergantung kalung perak yang dulu aku berikan.

Di pergelangn tangan aku juga masih melingkar gelang pemberian nya dulu, 2 benda ini sebagai pengingat dan pengikat kami selama berpisah dulu. Aku meraba kantong jeans yang terasa mengganjal karena di dalamnya ada sebuah kotak berisi tanda keseriusan hubungan aku dengan nya besok. Aku pun meminta kunci mobil nya, namun risa bilang jangan karena aku sudah capek dan risa bilang agar dia saja yang menyetir. Aku pun duduk di depan dan menonton bagaimana risa menyetir dan dia sudah cukup fasih. Dia sudah tidak seperti sopir mabuk yang berkendara dengan ugal-ugalan seperti dulu. Risa pun menanyakan apakah aku capek dengan pandangan mata yang fokus ke jalanan di depan nya. Rasa ngantuk memaksa aku memejamkan mata dan aku mencoba tidur sebentar untuk sedikit mengurangi beban mata yang sudah sangat mengganggu ini. Panggil risa dengan lembut dan dia menggenggam tanga aku.

Ketika itu aku belum tidur namun aku sengaja tidak menyaut perkataan nya dan menunggu kira-kira apa reaksinya. Risa mengatakan terima kasih karena aku sudah pulang dan aku menepati janji aku. Suara lembutnya menenangkan sekali kemudian aku merasaka ada telapak tangan yang terasa hangat menyibak kening aku dan perlakuan lembut dari risa membuat aku benar-benar terlelap. Sebuah suara di ringi goncangan di pundak aku membuat aku terbangun. Aku membuka mata dan sedikit silau dengan cahaya yang masuk ke dalam mobil. Tapi aku hafal dengan suara barusan dan aku membuka mata dan disamping aku sudah ada om bowo yang dengan tersenyum lebar membangunkan aku. Beberapa tetangga juga turut hadir dan aku mencium tangan beliau dan memeluknya dan setelah kepergian bapak dan ibuk, om dan tante aku ini sudah aku anggap orang tua aku sendiri. Beliau rutin mengecek kabar aku dan memberika aku dukungan untuk menjalani rutinitas aku. Aku menyalami beberapa orang yang ikut datang ke rumah aku. Beberapa kerabat dan yang menyenangkan adalah teman-teman masa SMP dan SMA yang sudah lama sekali aku tidak melihatnya turut hadir juga.

Andi, irawan, somad, susi dan banyak lagi dimana mereka semuadatang dan lihatlah juga andi teman masa SMP aku yang sangat kental dengan tingkah lucunya dan kini sudah menjalani profesi sebagai seorang polisi dan badannya tegap dan terlihat gagah. Akan tetapi meski begitu penampilan nya yang maskulin tetap bisa menghilangkan kebiasaan cengengesannya. Di samping andi ada irawan dan dia sudah selesai menjalani perkulihannya di jakarta dan sekarang dia adalah pegawai di sebuah bank ternama di jogja. Gayanya terlihat rapi sama seperti dulu. Somad dimana penampilan teman aku yang satu ini benar-benar berubah secara signifikan dan jika dia dulu berbadan tambun sekarang dia bertubuh atletis. Dengan kumis dan jambang yang lebat menghias wajahnya tentunya akan sulit bagi aku mengenalinya karena sudah lama sekali lost kontak dengannya.

Dan aku baru tau sekarang somad adalah seorang model dan susi tentunya kalian menginat susi dan gadis berwajah oriental ini semakin terlihat cantik dan dewasa. Dia sekarang menjadi seoran perawat di sebuah rumah sakit besar di solo. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here