100 Hari Setelah Aku Mati Part 112 : Rumah Untuk Aku Pulang Bagian 3

0
85
bukukita.com

Pak sangadi dan keluarganya sudah pindah karena pak sangadi penghuni terakhir rumah ini dan di pindah tugaskan ke kalimantan. Pagar rumah itu sudah di gembok dan aku sudah ijin untuk masuk ke lingkungan rumah itu kepada salah seorang tetangga yang ternyata mereka masih ingat pada aku. Terdengar suara pagar yang berkarat ketika aku dorong dan aura nya masih sama seperti dulu, dimana ada hawa sedikit tidak enak dan lumrah jika dari dulu rumah ini di juluki rumah angker. Aku melihat keadaan rumah bergaya tahun 50 an itu dan masih kokoh berdiri tanpa cacat. Bangunan jaman dulu memang terkenal awet. Aku berjalan pelan-pelan menuju halaman belakang dimana memori masa kecil aku mulai kembali menghampiri dan teringat di masa lalu aku menghabiskan waktu SD aku disini.

Penghuni abadi rumah ini melihat ke arah aku namun aku berusaha cuek. Mereka juga tidak akan berani mendekat dan aku fokus untuk mencari sosok yang aku kenal baik yaitu sari. Dalam hati aku memanggilnya dan jin berbaju putij itu tidak menua seperti aku dan dia masih dalam wujud anak-anak nya. Dia bermain dekat pagar belakang dan entah apa yang sedang ia mainkan. Dia pun melihat dan tersenyum hingga perlahan mendekati aku. Dia berkata akhirnya aku pulang dan aku semakin tampak gagah, ucap sari pada aku. Sari mengatakan jika aku terlalu cepat datang ke sini lagi karena sari menyuruh aku datang setelah 100 hari kematian nya. Dan sari bilang yang perlu aku lakukan hanya datang kemari setelah 100 hari dirinya mati dan cukup itu dulu saja. Sari bilang jika aku adalah manusia dan hiduplah bersama mereka dan sari hanya makhluk yang terjebak di dunia fana. Sari mengatakan jika aku sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi yang cengeng dan suka ngompol seperti dulu.

Sari menyuruh aku pulang karena sari bilang aku sudah pergi lama dan jauh, sekarang ini merupakan hari pertama diri aku kembali. Tidak baik apabila diriku berada di dekat sari terus dan kita tidak seharusnya terus berinteraksi. Sari juga mengatakan bagaimana gadis aku. Sari menyuruh aku kembali ke rumah untuk pulang. Sari mengatakan jika menunggu dan di tunggu bahkan dia menunggu sama seperti aku begitu lah sari berkata sebelum dirinya menghilang secara tiba-tiba. Aku tidak bisa mengikuti kemana dia pergi dan makhluk itu benar-benar mistis dan misterius. Aku sedikit menghitung dan mencoba mengukur tahun ke 100 setelah sari mati, 4 tahun lagi dimana ada waktu 4 tahun untuk aku mencari tau. Aku perlahan meninggalkan rumah itu dan kenangan rumah itu, dimana sari tinggal selama 96 tahun.

Aku sedikit mem flashback kejadian-kejadian yang dulu pernah aku alami disini dan ingatan masa kecil segera memenuhi memori kepala aku. Sari akan lebih menyenangkan jika bernostalgia disini dengan mu, begitu kata aku dalam hati. Akan tetapi seolah dia menjauhi aku dan tidak seperti masa SD aku dimana dia seperti tidak ingin berlama-lama di dekat aku. Sebuah perbuatan dosa jika aku berteman dengan makhluk yang bukan dari bangsa aku. Aku memperhatikan kaca jendela bagian belakang rumah itu dan tirainya sedikit tersibak dan memperlihatkan ruang dalam nya. Aku mendekati nya dan sedikit mengintip seperti maling. Aku melihat ranjang dari besi itu. Ruangan itu merupakan bekas kamar aku dan masih sama seperti dulu dimana hanya catnya saja yang berubah. Aku ingat sekali waktu wujud seram wanita berbaju putih menyeret aku masuk ke dalam kolong tempat tidur dan rumah ini merupakan saksi bisu dari banyak kejadian. Dari banyak kematian di masa lalu dan sudah pasti hawa nya begitu singup dan aura nya tidak enak hingga memenuhi sekeliling rumah tua ini. Beruntung keluarga peltu sangadi tidak di ganggu seperti hal nya aku dulu.

Memori yang selama ini mati-matian ingin aku lupakan kembali masuk ke otak aku dan gambaran-gambaran dari ejekan itu. Aku ingin segera pergi dari sini sambil melangkah pergi dan seseklai aku melihat kebelakang dan berharap sari akan muncul di ambang pintu sambil melambaikan tangan nya. Persis seperti yang selalu dia lakukan dulu ketika aku harus pergi. Aku harus berjalan sekitar 2 kilometer untuk menuju ke pemberhentian bis dan aku berpesan kepada risa untuk menjemput aku di pusat kota semarang. Tempat itu berada di simpang lima dan ingin rasanya meminta dia menjemput aku disini karena rasa lelah dan ngantuk yang luar biasa. Perjalanan berjam-jam dengan menempuh ribuan kilometer yang hanya aku balas dengan tidur di dalam bisa sambil sesekali terjaga karena rasa pegal yang mengganggu dan udara yang terasa panas. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here