100 Hari Setelah Aku Mati Part 111 : Rumah Untuk Aku Pulang Bagian 2

0
83
bukukita.com

Di bantu sopir taxi aku mengeluarkan bawaan dewi dari dalam bagasi dan membawa nya masuk. Dewi masih berbinang air mata dan memeluk erat ibu panti yang menyambutnya dengan haru. Aku tidak punya banyak waktu karena hari sudah menjelang malam dan segera setelah berbasa basi aku pun pamit. Dewi pun mengatakan semoga aku sukses. Aku melanjutkan perjalanan dengan taxi dan taxi itu mengantarkan aku sampai di sebuah terminal di jakarta barat. Aku menenteng koper itu dengan begitu repot. Sebentar saja setelah aku melangkah beberapa meter aku di kerubuti beberapa ojek dan jasa angkat barang. Aku berusaha menolak dengan halus setiap tawaran itu dan aku memang sedang buru-buru tapi aku tidak bisa menahan rasa lapar yang sudah terasa dari tadi. Aku memanggul koper itu dan pandangan aku tertuju pada sebuah warung dengan tulisan besar yang terbca pecel lele. Begitu lama aku tidak makan pecel lele dan aku duduk di sebuah bangku panjang dan memesan pecel lele dengan tambahan lalapan daun kemangi yang banyak.

Rindu juga dengan rasa daun kemangi karena selama di melbourne aku belum menjumpai daun kemangi. Bahkan di supermarket asia sekalipun. Aku pun menunggu pesanan aku sambil membuka handphone. Sengaja memang aku belum memberi kabar risa karena jika aku sudah sampai jakarta. Karena aku tidak ingin tuli dan aku membayangkan jika aku memberi dia kabar mungki saja dia akan berteriak dengan suara yang sangat tinggi, bukan berteriak namun lebih tepatnya menjerit. Akan tetapi rasa gatal juga tidak memberi kabar pada risa. Aku memainkan menu kontak handphone. Di situ aku meninmbang-nimbang mau menelpon atau tidak. Aku melirik ke jam tangan yang menunjukan pukul 19.45.

Aku menjauhkan speaker handphone dari telinga, bahkan panggilan telepon itu tidak aku load speaker namun tetap saja terdengar nyaring dan aku sudah menduga jika anak bawel itu akan teriak begitu tau aku sudah sedekat ini dengannya. Teriaknya dengan lebih semangat dan lebih kencang dan belum juga makan suruh ninggal apa nya. Andai saja jika tenggorokan risa bisa di stel secara manual makan aku akan menurunkan volume risa supaya dia bisa puas teriak tanpa membuat orang di sekitar nya budeg. Risa pun berteriak senang karena memang sudah 1 tahun kita tidak ketemu. Aku menaruh handphone di meja membiarkan risa mengomel sepuasnya karena aku sedang fokus dengan pemandangan di depan aku.

Aku menumpang di sebuah bis yang cukup nyama di dalam nya aku bisa sedikit beristirahat sambil menikmati pemandangan jalanan jalur pantai utara jawa. Satu-satu nya hal yang mengganggu aku adalah bunyi ringtone handphone yang selalu berdering hampir tiap menit. Jika bukan risa dengan segudang pertanyaan tidak pentingnya mengganggu waktu istirahat aku dan lucu karena aku sebal dengan orang yang selalu aku rindukan selama 5 tahun. Pukul 04.15 aku sudah sampai di pinggiran semarang dan aku berhenti di sebuah masjid sambil menunggu waktu untuk solat subuh dan rasa kantuk dan lelah perjalanan sudah terasa. Namun aku berusaha menguatkan diri karena aku sudah kembali ke semarang dan tempat dimana bapak dan ibu aku beristirahat untuk selama nya. Meskipun sebenarnya jenasah bapak tidak ada di semarang namun anggap saja seperti itu dan aku ke semarang untuk melakukan hal yang sia-sia yaitu pamer dan pamer pada almarhum bapak dan ibu. Aku ingin menunjukan bahwa mereka sudah berhasil membuat aku sampai seperti sekarang dan berharap beliau akan bangga pada putra nya ini.

Makam dengan keramik biru itu tampak bersih dan hanya beberapa rumput liar tumbuh di sekeliling nya. Aku jongkok dan mencabuti rumput-rumput itu sambil mengusap-usap permukaan licin dari makan yang masih terawat dengan baik itu dan aku menabur bunga di atasnya dan bau harum dari kanthil menyeruak di hidung dengan suasana di kompleks makam itu begitu sepi karena hari sudah mau pagi. Aku menunduk dan lantunan afatihah aku lafalkan untuk kedua orang tua aku. Aku bersyukur masih bisa bertemu dengan beliau meskipun hanya dalam bentuk batu nisan. Di kesempatan itu aku tidak menangis dan tidak juga bersedih. Aku merasa sangat bahagia karena aku tau jika bapak dan ibu aku sudah bahagia di alam sana.

Aku pun meminta doa restu pada bapk dan ibu aku karena aku akan menikah begitulah ucapkan aku di depan bapak dan ibu aku. Aku pun meninggalkan kompleks makam itu dan aku berjalan menuju sebuat tempat dimana teman masa kecil aku tinggal. Rumah tua itu kini kosong lagi dan itulah informasi yang aku dapat dari pemilik warung di seberang jalan ketika mendapati rumah dinas TNI itu kosong. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here