100 Hari Setelah Aku Mati Part 110 : Rumah Untuk Aku Pulang

0
154
bukukita.com

Wayan akan berencana meneruskan studi nya di tanah air, begitu juga dengan teman aku wardana, novita dan miska. Mereka akan melanjutkan ke jenjang yang berada dan aku tidak. Aku tidak sepintar dewi yang akan mempunyai sponsor dan aku hanya orang yang sebatang kara yang tidak mempunyai keluarga kandung dan belum berpenghasilan. Namun aku merupakan orang yang begitu berhuntung karena jika di ingat di beberapa part lalu aku menceritakan jika aku mempunyai hal dari asuransi hidup bapak aku yang bernilai 500 juta dan dari situ lah aku akan meneruskan semua yang aku harus lanjutkan. Di soekarno hatta kami semua berpisah dan mengucapkan kata perpisahaan kepada teman-teman aku. Wardana harus kembali ke rumah orang tua nya di malang dan novita kembali ke medan, miska merupakan orang palembang sedangkan wayan dan dewi mereka berasal darimana? pada masa sekolah dasar aku dangat tidak menyenangkan aku banyak menghabiskan waktu disana untuk di bully dan di aniyaya lahir dan batin.

Aku tidak terlalu berat meninggalkan masa itu kecuali karena harus berpisah dengan sari tentu nya. Di smp yang mengajar aku tentang berbagai hal bergaul dengan orang lain. Dan masa SMA tentu kalian tau masa SMA sangat indah bahkan di jadikan sebuah judul lagu oleh penyanyi tahun 80-an. Pada masa SMA semua hal baik dan buruk terjadi dan hubungan aku dengan risa, prestasi-prestasi kecil yang aku raih mayoritas aku dapat di jaman SMA. Ketika bapak aku meninggal pada jaman aku SMA masih terkenang. Sekarang aku harus berpisah lagi dengan orang-orang luar biasa yang menemani aku dalam perjalanan aku selama 5 tahun disini dan orang-orang ini secara tidak sengaja ikut membentuk pribadi aku yang lebih dewasa. Lambaian terakhir aku mengiringi perpisahan aku dengan wayan, wardana, novita dan miska.

Kini tinggal aku dan dewi yang turun dari bandara, dimana dewi juga segera kembali ke tempat dimana dia pulang. Aku malah turun di jakarta dan seharusnya lebih enak jika turun di bandara adisucipto. Namun karena aku ingin mendatangi suatu tempat yaitu semarang. Dewi pun menawarkan pada aku untuk mempir terlebih dahulu ke panti. Namun aku menolak nya karena ada yang harus aku selesaikan. Aku pun menitipkan salam pada anak-anak dan ibu panti. Dewi pun mengangguk takzim karena dia merupakan perempuan pengertian dan cowok di dunia ini tidak mungkin tidak mau perempuan seperti dian. Karena dewi adalah paket yang cukup lengkap. Kami berada dalam satu taxi dan kami bicara masih tentang seputaran kenangan-kenangan manis selama kuliah dan dewi tiba-tiba tanya kapan aku akan bicara dengan orang tua risa? dan aku berencana melamar risa di minggu depan.

Selain itu aku harus bilang pada om bowo karena bagaimana pun dia wali aku sekarang. Dewi senyum sambil menunduk dan dia memainkan jari-jarinya. Mungkin ada yang membuat nya mengganjal di hati dan pikirannya. Dewi meinta agar aku tidak lupa pada nya ketika nanti aku sudah lamaran dan nikah dengan risa. Dewi meminta agar komunikasi terus. Dan aku bisa menjanjikan hal itu. Butuh waktu yang lama untuk ke tempat dewi dan bisa di maklumi dengan keadaan jalanan jakarta yang macet dan terik panas. meskipun tidak berasa langsung, aku yang di dalam mobil namun bisa di lihat dari pohon yang ada di pinggir jalan dan perbedaan sangat kontras jika di bandingkan di melbourne.

Taxi berhenti di depan pagar besi panti itu dan seperti terakhir aku kesana aku melihat anak-anak yang bermain di halaman. Keadaan panti itu sekarang lebih baik dan dewi pernah bercerita jika sekarang panti itu sudah mempunyai donatur baru yang memberikan donasi yang cukup besar. Jadi masalah kesehatan dan berbagai fasilitas di dalam nya sudah cukup teratasi. Anak –anak yang sedang asik bermain itu menghentikan aktifitas dan melihat taxi yang beisikan kami berdua di dalam nya. Mereka terlihat senang saat ada tamu yang mengunjungi. Mungkin bayangan mereka tiap ada tamu yang datang berarti mereka akan punya keluarga baru. Wajah mereka yang penuh harapan akan di adopsi dan mendapat keluarga sangat terliht di wajah mereka. Wajah kami juga terhalang kaca mobil yang berwarna gelap itu dan dewi membuka pintu. Dia keluar dan melambaikan tangan kepada anak-anak itu, bahkan butuh spersekian menit sampai beberapa anak-anak disana berteriak dan memanggil nama dewi. Mungkin mereka sedikit lupa dengan dewi setelah lama tidak bertemu dan sebagian anak lain mungkin adalah penghuni baru yang dewi belum mengenalnya. Dewi berlari masuk ke dalam halaman dan memeluk satu-satu diantara mereka dan aku tersenyum melihat kejadian itu. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here