100 Hari Setelah Aku Mati Part 109 : Kenangan Dari Makhluk Yang Hampir Abadi Bagian 4

0
80
bukukita.com

Sebaiknya gunakan kasa atau kapas karena yang keluar dari matanya bukanlah air mata, melainkan darah kental dan wajah menyeramkan itu tampak berlumuran darah. Sangat mengerikan jika kalian melihatnya secara langsung dan aku tau bangsa mereka merupakan makhluk yang penuh tipu daya. Namun aku berkata bahwa sosok di depan aku bukan lah makhluk yang perlu di waspadai. Dia merupakan segelintir dari banyak nya jin yang terjebak di dimensi yang tidak seharusnya mereka tinggal di dalam nya. Aku menunggu seseorang dan jeritannya dengan histeris dimana dia menjerit dengang lengking. Telingan aku serasa di tusuk karena tinggi nya suara itu, meskipun hanya aku seorang yang bisa mendengar nya. Marry mengambil setangkai mawar dan melemparkan nya ketika mengenai kening aku dan dalam sekejap berkedip dan kalian tau kecepatan kedipan mata manusia. Dari kedipan sepersekian detik dan latar di sekeliling aku bukan lagi melbourne di tahun 2011.

Matahari bersinar terik dan aku benar-benar merasakan nya. Suasana di sekeliling aku jauh berbeda dari beberapa detik lalu dan aku sudah pernah mengalami kejadian ini. Tampaknya aku di ajak masuk ke ingatan masa lalu marry. Orang-orang bergaya mirip retro dan bendera britania raya tampak berkibar di jalanan yang belum banyak di lalui kendaraan. Kendaraan mobil yang lewat bergaya kalsik dan aku berdiri dari sebuah batu yang aku duduki dan beberapa meter aku melihat marry sedang bersama laki-laki. Aku yakin itu merupakan william yang dia sebut kan tadi. Marry membawa sekeranjang mawar persis seperti yang selalu dibawa. Aku tidak yakin kejadian itu berlatar tau berapa namun jika di lihat gaya nya pakainnya dan suasana nya, aku melihat rumah berjejer di tempat aku yang sedang berada di tahun 30 an.

Aku tidak terlalu ambil pusing dan aku fokus pada 2 orang itu, dimana aku berjalan mendekati mereka agar bisa mendengar percakapannya. Aku melihat drama perpisahan disini dan william merupakan cowo bule dan dia memakai topi dan kacamata yang cukup tebal tergantung di hidungnya dan bukan tentara. Aku melihat postur tubuhnya namun dia membawa kamera polaroid tua. Aku memandangnya sama-samar namun di akhir perjalanan ruang dan waktu itu aku melihat marry mangangguk dan memberikan setangkai mawar putih pada william. Sekilas kemudian aku kembali ke alam nyata.

Marry dan dia masih menangis-nangis tersedu dan kali ini berwujudan cantiknya di usap di wajahnya bukan lagi darah melainkan air mata dan dia benar-benar tampak seperti seorang gadis perawan yang sedang patah hati karena menunggu kekasihnya. Kisah cinta klasik yang abadi namun berakhir tragis. Aku sudah paham maksudnya dimana aku sudah mengerti alasan kesedihan marry dan aku sudah mengerti kenapa dia masih berada disini. Aku pun mulai paham sekarang dan tidak sedang menunggu dan dia di tunggu oleh seseorang, dimana sosok seperti aku dan dirinya berusaha mencari cara bagaimana membantunya. Jika betul makan jangan sampai kamu itu mewarisi sakitnya dan aku belum dapat kembali sampai rasa sakit itu sembuh. Marry berdiri dan melayang dimana dia juga mendatangi aku. Tidak lama marry melayang pergi dan aku bahkan belum sempat berterima kasih. Aku duduk termenung dan tentunya kalia tau alasan aku melakukan hal itu tadi dan tentunya sari.

Dia meminta aku datang 100 Hari lagi setelah dia mati dan hanya itu saja permintaannya. Jelas ada 1 hal yang membuatnya belum tenang dan malam itu aku belum mendapat petunjuk bagaimana aku bisa membantu sari. Namun aku mendapat alasan kuat untuk menepati janji aku supaya sari jangan sampai mempunyai nasib seperti marry. Hari minggu semua berjalan begitu cepat dan hari itu merupakan hari dimana semua perjalanan aku disini sudah berakhir. Hari final dari seribu satu cerita aku di melbourne yang alhamdulillah aku tutup dengan baik. Aku duduk di samping wayan yang terlihat murung dan anak konyol ini dari pagi tadi sudah meracau karena tidak ingin berpisah dengan kami. Aku melirik ke arah wardana yang sedang asiknya bersama novel nya dan sambil sesekali bicara dengan dewi yang sedang melihat kumpulan awan dari dalam pesawat berlambang burung kebanggaan indonesia ini. Novita dan miska, entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka tertawa terbahak-bahak. Aku hanya berdiam untuk menanggapi ocehan wayan yang tidak ada hentinya mengomentari kepulangan kami.

Butuh waktu beberapa jam untuk kita sampai di bandara soekarno- hatta dan di sana pula aku dan teman-teman aku berpisah. Dewi akan kembali ke panti dimana dia tinggal dan dia sudah punya rencana akan bertemu beberapa lembaga yang berminat memberinya sponsor untuk kelanjutan studinya. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here