100 Hari Setelah Aku Mati Part 107 : Kenangan Dari Makhluk Yang Hampir Abadi

0
24
bukukita.com

Tampak berdiri di pinggir jalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Gadis manis itu menjual bunga mawar yang sudah di hias dengan cantik hingga terlihat lebih cantik. Aku perkirakan umurnya sekitar 17 tahun dan mungkin dia berjualan bunga untuk tugas sekolah atau acara amal. Gadis dengan bawahan berwarna hitam sebatas lutut itu menghampiri aku dan menanyai aku. Dia tanya apa aku sedang menunggu seseorang? aku juga bertanya balik apakah aku seperti sedang menunggu orang? gadis itu berwajah oriental dan mungkin saja dia blesteran dari kulit putih eropa dengan orang asia. Dan itu membuat nya begitu cantik. Gadis itu bertanya apa dia boleh duduk di samping aku dan aku tersenyum dan memberikan anggukan sambil memberikan sela ruang agar gadis itu duduk di samping aku.

Gadis itu bernama marry dan aku juga memperkenalkan diri pada gais itu. Dia pun tanya darimana diri aku berasal. Aku menjelaskan jika aku disini sedang menempuh pendidikan. Aku yaki pernah mendengar nama kota itu dan aku tidak yakin itu ada dimana. Tapi dia begitu berwawasan karena mengetahui jika jogja masih memiliki sultan yang memerintah sebagai gubernur. Aku pun hanya menggangguk pelan sambil menengadah melihat purnama yang terlihat berpendar indah. Dan dia pun sambil membenahi susunan bunga di keranjangnya, selain itu dia juga mengatakan senang bisa mengenal aku. Dia pun harus segera pulang dan dia sambil berdiri memberikan setangkai bunga mawar putih pada aku. Dan aku meneriman nya dengan senang hati.

Ketika aku akan membayar bunga itu, marry menolak untuk di bayar dan dia bilang memang memberikan nya untuk aku. aku disini tidak untuk jualan namun dia berdiri sepanjang hari untuk memberikan bunga-bunga ini pada orang yang mau menerima nya. Dan dia bilang dia senang karena aku sudah menerima bunga pemberian nya. Sepanjang hari aku disini dan baru aku yang mau menerima bunga yang di berikan nya. Dan dia pun senyum dan memberikan anggukan pertandan dia permisi. Aku memegang mawar itu dan sejenak berfikir mengenai ucapan marry, aneh juga untuk ukuran gadis jaman sekarang memberi bunga seharian gratis pada orang. Anehnya lagi dia mengatakan baru aku yang mau menerima bunga nya dan apa yang salah hingga tidak ada yang mau menerima bunga dari nya.

Tidak lama muncul hawa yang aneh dan tiba-tiba bulu kuduk aku merinding sekali. Di barengin dengan rasa dingin yang hinggap di leher bagian belakang aku dan aku merasa kepekaan indra aku meningkat dengan sendirinya dan mawar yang aku pegang itu samgat aneh sekali karena tiba-tiba mawar itu layu dengan sangat cepat. Dan sungguh hal ini tidak masuk akal dalam hati aku dan angin mulai bertiup kencang dimana tiupan angin membuat kelopak bunga yang kering dengan aneh itu terbang. Aku melihat potongan kelopak bunga kering yang terbang di angkat angin itu melayang ke arah dimana tadi marry berjalan meninggalkan aku. Ini merupakan suatu kejadian yang cukup aneh. Aku memang tidak banyak bercerita pengalaman bertemu mereka selama di melbourne karena saking banyaknya dan setiap hari aku menemui makhluk tidak terlihat disini namun malam itu merupakan hal unik ketika aku bertemu salah satu dari mereka yaitu sosok yang mengaku bernama marry. Marry dan aku masih melihatnya dari jarak yang tidak terlalu jauh dimana dia tidak lagi terlihat seperti gadis manis yang menyenangkan selayaknya di beberapa detik yang lalu. Dia berjalan dengan kaki pincang dan dia berjalan terseok-seok dengan rambut panjangnya yang tadi terlihat indah.

Dimana rambut marry berwarna hitam keciklatan dan kini tampak kumal dari belakang. Rok dan sweater yang dia gunakan robek yang compang camping. Dia pun berjalan dengan menyeret kaki kananya karena kaki kananya hanya sebatas mata kaki tanpa ada telapak kaki. Aku pun memanggil marry dengan teriakan keras dan teriakan aku membuat pejalan kaki melihat ke arah aku. Aku berteriak lagi dan orang di sekitaran trotoar yang ramai itu mulai melihat aku dengan pandangan yang cukup aneh. Mungkin dalam hati mereka bicara, ada apa dengan diri aku? aku tidak peduli dan tidak lama marry melihat ke arah aku. Dia melihat ke arah aku dengan cara memutar kepalanya 180 derajat hingga menghadap ke arah aku. Saat itu posisi aku berada 15 meter di belakang nya dan mungkin akan mengumpat kerena melihat wajah marry. Wajahnya pucat seperti terendam air dalam waktu yang cukup lama. Wajahnya lebam-lebam membiaru dan di pelupuk mata nya tampak darah yang menghitam menetes melewati pipinya. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here