100 Hari Setelah Aku Mati Part 106 : Kenangan Dari Makhluk Yang Hampir Abadi

0
11
bukukita.com

Kecuali aku dan dewi tentunya tidak ada dari kita yang mendapatkan kunjungan dari keluarga untuk merayakan hal indah ini. Om bowo pun sudah beberapa kali sudah mengatakan akan datang namun hal itu aku tolak dengan halus. Karena tidak sedikit biaya yang di keluarkan jika harus repot-repot ke sini sama hal nya dengan risa yang aku bujuk supaya tidak usah repot-repot kesini. Aku mengatakan jika kita akan merayakan setelah aku sampai. Disini aku ingin menemani dewi dan menjaga perasaan dewi dan aku lebih berhuntung karena masih ada kerabat dekat yang mendukung aku dan memperhatikan aku. Aku juga mempunyai risa dan om hamzah yang begitu perhatian pada aku. Dan dewi tidak ada sama sekali.

Aku mau menemani dan aku mau mendukung nya juga ikut berbahagia di hari istimewa ini. Aku mau melihat wajah kecewa nya hilang dan memeluknya haru. Aku mau melihat wajah nya yang ceria dan aku mau memberitahunya bahwa dia tidak sendirian di dunia. Dewi mengucapkan selamat pada aku dengan haru dan isak tangis nya. Aku juga mengucapkan selamat pada dewi dimana hari itu merupakan satu hari bersejaraj di hidup kami dan ingin aku mengukir sebuah prasasti dan aku tancapkan di tempat semua orang bisa melihat pencapaian kami. Tidak berasa setetes aor mata turun di pipi aku dan aku membayangkan andai saja beliau masih ada dan andai saja jika beliau berdua melihat aku berdiri disini, di situ dalam hati aku berdoa dan bersukur kepada Allah.

Ditengah riuh nya wisudawan ke langit-langit berusaha memvisualisasikan bayangan kedua orang tua aku. Hari jumat sore adalah hari yang amat sibuk tapi santai. Weekend mempunyai banyak manfaat kaum muda melbourne untuk sekedar nongkrong dengan pasangannya. Aku sedang berjalan sendirian sejal pagi tadi dan menghabiskan sisa 2 hari terakhir aku disini. Entahlah kenapa aku mau sekedat berjalan-jalan sendiri padahal aku sangat enggan dengan namanya kesendirian namun kebiasaan lama kadang membuat kita kangen untuk mengulanginya.

Aku ingat di masa kecil aku aku sering bahkan selalu jalan sendirian sepulang sekolah melewati padang ilalang seorang diri karena tidak ada yang mau untuk sekedar berjalan dengan aku. Jalanan setapak di sepanjang persawahan adalah rute yang paling aku sukai. Disana mempunyai tempat yang sepi dan sunyi. Aku sebetulnya tidak benar-benar sendiri tapi aku selalu di barengin dengan seorang kawan yang bisa di katakan hampir abadi dan sari tentunya kalia mengenal sari. Entahlah apakah sari pantas di sebut orang karena pada dasarnya sari itu qharin dari sari yang pernah hidup di masa lalu.

Aneh sekali masa itu manusia yang harusnya jadi bangsa aku malah menjauhi aku. Justru makhluk yang buka manusia malah menjadi kawan baik aku. Itulah kenapa aku memilih jalanan yang sepi pada saat pulang sekolah supaya bisa bermain dengan sari tanpa di anggap gila oleh orang-orang. Aku melewati jalan kampung di pinggiran semarang dan menyebrang parit kecil dan berhenti di semacam padang ilalang dan disana aku bermain dan ngobrol kepada sari tentang betapa sebal nya melihat sikap orang-orang kepada aku. Dulu aku membenci mereka yang menjauhi aku namun entahlah ketika aku bersama sari kebencian itu tidak ada lagi. Sangat berbeda dengan sekarang dimana aku sudah ada teman yang banyak dan jarang aku duduk di sebuah kursi panjang di trotoar. Udara mulai bertambah dingin dengan angin yang mulai berdesir dan dinginya serasa menembus kulit. Aku merogoh saku mantel aku dan memakai sarung tangan dan tidak lupa kupluk bulu domba itu aku benamkan lebih dalam agar lebih rapat melindungi telinga aku dari rasa dingin.

Aku asik membaca pesan singkat yang tertera di handphone dan pesan dari indonesia dan tentunya jika tau siapa dia maka dalam pesan teks sekalipun dia jenaka dan menyenangkan seperti biasa nya. Tidak terasa cukup lama aku asik chating dengan dia hingga sampai waktunya sudah semakin malam dan suasana semakin gelap. Di situ ada bapak-bapak duduk dan bertanya apakah aku sedang menunggu seseorang. Aku menjawab tidak dan aku bilang aku sedang menikmati suasana udara saja. Bapak-bapak yang mungkin usia nya 50 an itu hanya membalas dengan senyuman sambil berdiri karena bis yang menjemputnya sudah datang. Dia menganggukan kepalanya dimana itu merupakan tanda permisi.

Aku memandangi bapak-bapak yang sudah masuk ke dalam bis yang sudah melaju perlahan itu. Malam itu purnama terlihat penuh dan jalanan masih ramai dengan lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki dan aku hanya duduk terdiam menikmati waktu sambil sesekali membalas senyum gadis penjual bunga yang membawa dagangannya dengan keranjang kecil di lengan nya. bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here