100 Hari Setelah Aku Mati Part 105 : Memohon Doa Restu Bagian 2

0
83
bukukita.com

Aku pun merindukan seseorang seumur hidup aku karena tidak lagi bisa memeluk orang tua aku. Karena disini ada orang yang rela jauh merantau untuk membanggakan kedua orang tua aku dan meskipun begitu dia tidak akan pernah melihat orang tua nya lagi. Dan orang tua nya menangis bangga kepada anak nya. Karena disini ada seseorang yang rela menukarkan semua hidupnya hanya untuk bertemu lagi dengan bapak ibunya. Aku masuk ke dalam kamar karena ingin melamun dan memikirkan tentang apa saja yang sudah aku lakukan disini dan mengemasi beberapa dokumen penting. Sisa beberapa hari sebelum aku wisuda dan tiket penerbangan kami sudah di tentukan tanggal keberangkatan. Kami menggunakan waktu yang ada untuk sekedar membereskan barang yang bisa aku bawa pulang. Beberapa barang yang besar sengaja aku tinggal atau aku berikan pada orang lain. Aku sudah memberikan sepeda yang biasa aku pakai untuk berangkat kuliah kepada brandon. Aku meninggalkan nya kerena repot jika aku bawa. Beberapa dokumen menumpuk untuk di tanda tangani dan masih banyak hal terkait administrasi yang mulai menggunung menunggu untuk di selesaikan.

Aku duduk di meja belajar dan melihat rak buku yang tebal-tebal dan aku mengambilnya dan memasukannya satu persatu dalam koper yang khusus aku gunakan untuk mengemas buku dan beberapa persuratan. Cukup memakan waktu lama untuk memaksa semua buku itu masuk kedalam koper yang tidak seberapa besar ini. Aku melanjutkan keasyikan mengemasi foto-foto semasa kuliah yang terpanjang di dinding kamar aku. Kemudian aku memilah beberapa pernak pernik yang ingin aku bawa pulang. Beberapa penghargaan dari beberapa seminar dan kejuaraan yang aku ikuti, aku bereskan serapi mungkin. Aku tidak ingin satu kenangan berharga sampai tertinggal.

Sekitar 2 jam aku membungkuk hingga merasakan pegal di pundak dan aku duduk di kasur. Sebuah kotak beludru yang lebih kecil dari telapak tangan. Aku tersenyum dan mengambil benda berharga itu dan aku pun membuka nya. Tidak lama terdengar suara dewi dari luar pintu kamar yang aku sengaja biarkan terbuka membuat aku menoleh. Aku mengatakan jika aku tidak sengaja menduduki suatu benda dan untung tidak rusak. Dewi langsung masuk ke kamar aku yang tidak terkunci dan menanyakan apa aku akan langsung melamar risa? aku menjawab iya jika semua nya lancar sambil aku membuka tutuo kotak yang berisi sepasang cincin itu. Dewi bilang jangan sampai lupa mengundang dia dan dewi sambil memukul bahu aku.

Aku tersenyum dan meletakan kotak berisi cincin yang insya Allah akan aku gunakan untuk melamar risa setelah tiba di tanah air. Aku menanyakan kapan dewi akan menyusul namun dia bilang tidak ada sejarahnya sel telur ngejar sel sperma dan tidak lazim perempuan mengejar cowok. Dewi bilang semua garis jodoh sudah ada yang ngatur dan kadang jodoh itu muncul di tempat dan juga waktu yang tidak terduga. Namun aku yakin bakal segera nyusul seperti kamu, ucap dewi sambil serius. Aku pun mengatakan jika aku mendoakan dewi agar segera bertemu orang yang sama luar biasanya seperti kamu dan bisa melengkapi kamu. Dewi senyum sambil memukul kepala aku dan sambil meninggalkan kamar aku.

Hari yang sudah aku nantikan tiba dan hari suka cita dari setiap insan yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan hari peresmian bahwa kita semua sudah selesai mencekoki otak dengan bidang keilmuan yang tidak sebentar kami tekuni. Hari dimana beban sebagai mahasiswa starta pertama selesai. Hari pertama untuk perjuangan yang lebih panjang untuk menempuh spesialis keilmuan aku yang masih belum spesifik. Perjalanan panjang untuk meraih gelar dokter yang sebetulnya. Hari ini adalah akhir rutinitas aku di melbourne dan aku tidak lama lagi akan menjalani rutinitas baru yang lebih kompleks di indonesia dengan segudang masalah.

Pakaian impian semua mahasiswa pun sudah di pakai dan toga dengan logo universitas melbourne yang menempel di dada sebelah kanan. Teman-teman aku tampak gagah dan cantik dengan balutan make up tebal. Tampaknya mereka semua mempersiapkan betul hari besar yang di nanti kan. Dewi, Wayan, Wardana, Novita dan Miska dimana mereka adalah teman seperjuangan aku disini dan mereka ada di kanan dan kiri aku. Ketika itu aku menangis haru dan bahagia. Teman-teman aku dari negara ini juga nampak menawan, lihatlah Natalie si jangkun bermata biru nan cantik itu melambai ke arah aku dan tersenyum dengan anggun. Dan Eugene si otak profesor dengan gaya flamboyan melangkah dengan bangga. Mereka di datangin keluarga mereka yang jauh menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk menyaksikan dan ikut berbahagia di momen sakral akademis ini. Bersambung cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here