100 Hari Setelah Aku Mati Part 104 : Memohon Doa Restu

0
41
bukukita.com

Kita doakan saja brandon karena orang sejenis kita akan mempunyai jalan hidup yang tidak mudah. Tidak terasa 5 tahun sudah berlalu dan dalam 5 tahun aku mengenyam pendidikan disini. Sekarang tidak sampai satu purnama aku, dewi dan beberapa teman kuliah disini harus kembali mengabdi ke tanah air. Aku sedang menyukai kata mengabdi dan entahlah mungki saja aku terlalu terpengaruh dengan buku milik almarhum husain. Coretan tangan nya membuat aku berfikir dua kali untuk apa aku lakukan selepas dari sini. Aku membaca buku itu tiap malam meneliti nya dan bahkan dari buku itu pula aku mengangkat undergraduate thesis dan memberitahu aku pada predikat lulus dengan memuaskan.

Aku dan dewi sudah 5 tahu berteman kami sama-sama tumbuh dewasa disini dan melbourne sudah melekat di hati kami bahkan kami sudah menganggap sebagai rumah kedua kami. Selama di perjalanan kami melewati tempat-tempat yang dulu sering kami lewatkan bersama beberapa teman yang lain. Seperti rumah makan padang di pinggiran kota monash milik uda samsul. Kedai kebab turki milik tuan kharim yang selalu di buru lantaran murahnya. Toko oleh-oleh nancy dimana dewi sering berdebat dengan pemilik tokonya demi mendapat diskon beberapa sen dan banyak lagi kenangan dari tempat-tempat menyenangkan di melbourne. Dan yang paling aku ingat tentunya adalah yarra valey.

Kami pun sampai di hunian menjelang sore dan beberapa teman seperti wayan dan wardana. 2 orang cewek teman kami yang lain tampak asi mengobrol di ruang tengah sambil mengemas beberapa barang yang bisa di bawa pulang. Mereka adalah kawan baik aku disini dan teringat akan peristiwa mengerikan yang aku lalui bersama mereka. Serangan daisy tentunya akan menjadi trauma bagi mereka. Tapi mereka merupakan teman-teman baik yang setia mendukung aku dan menemani aku. Sudah banyak hal terjadi disini banyak pula peritiwa suka maupun duka selam aku menempuh pendidikan disini. Tampaknya Allah memudahkan jalan kami sehingga kami semua mampu lulus dengan pencapaian baik disini.

Semua memiliki mimpi tapi tujuan kami hampir sama yaitu mengabdi. Mengabdi dengan cara kami masing-masing dan ada yang bercita-cita bekerja di rumah sakit besar. Ada yang ingin melanjtukan spesialis bidang keilmuan dan bahkan ada yang ingin buka praktek di kampung tertinggal. Orang itu merupakan aku sendiri. Lagi-lagi itu karena buku impian husain. Dia benar- benar menularkan semangat nya kepada aku. Aku sudah membuat rencana akan kemana dan sebagainya dan itu akan aku ceritakan seiring cerita ini berjalan. Banyak hal yang harus kami tempuh di tanah air dan sebagainya dimana semua harus kembali ketanah air. Butuh waktu sekitar 10 tahun jika aku ingin mendapat gelar dikter spesialis anak. Ada perasaan berat sekaligus senang atas selesainya aku belajar disini dan berat karena meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah dan senang akhirnya aku dapat pulang. Tempat dimana aku berasa dan tempat dimana aku lahir, tempat dimana aku akan menghabiskan umur aku disana. Kembali ke tanah air berarti merupakan melunasi hutang. Dan hutang kepada negara akan kubayar dengan pengabdian. Dan aku harus melunasi kepada satu orang dan satu lagi seorang yang sebenarnya bukan manusia. Kalian tentu paham dengan siapa aku harus melunasi hutang.

2 orang serupa yang lahir dari waktu yang berselang puluhan tahun dan masih sebuah misteri kenapa mereka bisa serupa. Masih misteri juga karena risa seolah di berikan Tuhan untuk menggantikan sari. Sari adalah makhluk yang penuh misteri dimana terakhir kami bertemu beberapa tahun lalu dia meminta aku membantu nya. Bertahun-tahun aku memikirkan itu namun aku belum menemukan jawaban. Ketika itu aku benar-benar rindu dengan kedua orang tua aku dan meskipun beliau berdua sudah tidak ada sekian tahun makan aku tetap merasa beliau ini masih sangat dekat dengan aku. Tapi rasa dekatnya membuat aku seperti bernyawa lagi.

Seolah setiap pagi saat aku bangun dari tidur dan aku masih bisa mendengar suara ibu aku yang membangunka aku dengan lembut. Dan begitu kata-kata itu terucap maka terbayang di telinga aku seketika dan seakan suara yang tidak nyata itu benar-benar terdengar. Aku tidak ingat banyak hal tentang apa saja yang pernah di katakan ibu pada aku dimana aku hanya bisa mengandaikan kalimat sederhana penuh kasih itu terucap dari ibu aku yang sudah terpisah belasan tahun lama nya. Sering kali aku merasa ada yang menemani aku dan saat aku sedang lelah dengan kegiatan aku. Ketika itu aku sedang jenuh belajar dan saat itu sedang malas. Dan ketika membuang waktu untuk hal yang tidak penting kadang aku seperti mendengar bisikan. Seolah mendengar suara bapak dan hal ini seirus aku seperti mendengar suara yang terdengar berat namun lembut.

Terdengar tegas namun tidak memaksakan. Itulah kekhasan bapak yang sampai saat ini aku ingat. Suntikan semangat beliau yang berlatar belakang prajurit membuat aku mau tidak mau mengikuti gerak langkah cepatnya dan kedisiplinan tindak tanduk nya. Masih segar di ingatan aku saat pertama di latih naik sepeda oleh beliau. Ketika itu aku jatuh berkali-kali namun bapak hanya melihat dan menyurh aku bangun dengan cepat. Bahkan lutut aku sampai berdarah-darah tapi bapak tetap membiarkan aku berusaha lagi dan berkata agar aku bangun. Aku dalam hati berkata jika anak kamu ini sudah besar dan kalian yang masih mempunyai orang tua sebaiknya bersyukur dan menuruti perkataan mereka. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here