100 Hari Setelah Aku Mati Part 102 : Dewi Dan Husain Bagian 2

0
82
bukukita.com

Namun aku mengatakan bahwa seperti yang dulu dewi pernah katakan jika hidup manusia itu tidak mudah. Dan aku juga mengatakan jika mas husain masih ada apa yang dia pikirkan jika melihat kamu menangis. Aku bilang aku yakin mas husain tidak mau melihat dirinya seperti ini dan jika mas husai yang ngasih kamu semangat selama ini, maka jangan lah kamu hilangkan semangat yang dia beri ke kamu. Mas husain tetap akan selalu hidup dalam semangat kamu, ucap aku pada dewi. Dewi kembali mengelap air matanya dan sekali lagi menoleh ke arah aku. Tatapan seperti kaget. Persis yang di ucapin mas husai terakhir kali dan setengah berbisik.

Aku belum sempat membalas kata-katnya dan dewi berdiri lalu segera berjalan menuju kamarnya. Dia pun menyuruh aku menunggu. Aku masih terduduk sambil melihat arloji dan waktu menunjukan pukul 11.00. Hari Libur seperti di gunakan oleh beberapa teman-teman serumah untuk bekerja part time. Di beberapa toko lingkungan kami. aku pun mengecek handphone dan hanya sekedar melihat apakah risa memberi kabar atau tidak. Ternyata kosong dan aku berfikir risa masih di dalam pesawat. Saat aku sedang asik memencet handphone tiba-tiba dewi muncuk sambil menenteng sebuah buku.

Dia menyerahkan benda yang semual aku anggap buku namun ternyata itu merupakan album foto yang berisi kenangan dengan almarhun husain. Aku membuka halaman pertama dari album itu dan melihat sosok almarhum husain yang tercetak pada selembar foto. Husain dia memiliki postur tidak terlalu tinggi dan mungkin lebih pendek dari pada dewi. Badannya kurus dan mungkin dikatakan begitu kurus, kulitnya putih dan dia memakai kaca mata. Dia juga memakai jas almameter berwarna kuning. Foto itu menunjukkan betapa bahagia nya mereka dan aku membuka halaman demi halaman. Album itu berisi foto mereka berdua dan di akhir halaman hanya ada selembar foto. Tanpa ada foto lain di sampingnya dan itu foto batu nisan dari husain.

Dewi menghela nafas panjang dan terlihat dia seperti menelan ludah seolah dia berusha menahan rasa sulit di mulutnya. Hal ini bukan lah sesuatu yang mudah di ceritakan. Ibarat kita menuang air garam di sayatan luka kita. Pedih namun dewi merupakan orang yang akrab dengan rasa pedih dan rasa sakit juga kepedihan hidupnya yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang dan dia pun mulai menceritakan nya. Tapi mas husain pun berasak dari sebuah pulau yang jauh tertinggal dari tempat dimana kita tinggal, kerusuhan dan gizi buruk. Bahkan masih banyak lagi permasalahan di daerah desa itu. Disana mayoritas pendidikan anak-anak mentok pada SD dan mereka lebih memilih membantu keluarga nya di ladang. Namun mas husai lebih memilih meninggalkan kampung nya semenjak dirinya masuk smp dna dia merantau ke surabaya. Sambil bekerja di sebuah tokok buku sudut pinggiran kampus ternaman kota 10 november itu, dia pun berjuang sendirian. SMA dia lanjtukan tetap di surabaya hingga nasib baik membawanya ke kampus makara kuning. Program studi kesehatan masyarakat adalah pilihannya. Dia bermimpi setelah lulus dia akan pulang kampung dan membuat perubahan di kampungnya melalui pendidikan nya. Dia mempunyai berbagai macam langkah untuk mewujudkan cita-cita nya dia nulis di sebuah buku dan dia adalah si kecil kurus yang ingin mengabdi. Setiap hari dia membual tentang kelak anak-anak di desanya tidak akan lagi memegang belati dan senapan rakitan. Tapi anak-anak itu akan membawa buku dan penggaris di tangan nya. Dia memimpin melihat anak-anak yang memiliki impian yang lebih tinggi daripada impiannya.

Tidak ada lagi anak-anak mabuk, tidak ada lagi kerusuhan antar kampung dan tidak ada lagi kemiskinan. Dan tidak ada lagi orang sakit karena kurang nya kepeduliaan tentang kesehatan. Namun kadang takdir membuat jalan yang berbeda dan mas husain meninggal dalam kecelakaan dan dia meninggal saat akan menjemput aku berangkat sekolah. Dan dewi merasa bersalah karena memang husain meninggal ketika akan menjemputnya. Dewi lagi-lagi terduduk dan dia kembali menangis dan kali ini bukan menangis tertahan. Dia menangis terisak-isak dan mungkin sudah tidak tertahan lagi rasa sedih dan sesalnya. Jika kali ini aku melihat dewi seperti ini dan gadis baja dengan mata sayu ini yang biasanya tegar luar biasa ambruk dan menangis dalam sesal kenangannya.

Aku masih diam dan aku masih takjub dengan penuturan dewi tentang husain dan dia orang yang hebat bahkan lebih tepatnya dia orang yang menakjubkan. Cita-cita nya begitu sederhanan tapi ada rasa malu terbesit di benak aku bahkan aku yang sudah menghabiskan setengah dari waktu studi aku belum memiliki cita-cita yang semula dan spesifik husain. Aku pun bertanya benarkah dia masih menyayangi husain dengan tanya aku perlahan sambil memegang bahunya dewi. Aku mengatakan jika cewek itu paling kuat yang pernah aku kenal dan bukannya hati dewi ciptaan Allah. Aku bilang jangan membuat aku tambah malu lagi karena dulu di awal ketemu aku sudah cukup malu karena tau ada orang yang punya sejarah lebih kelam dari aku tapi dia 2 kali lebih kuat dari aku yaitu diri dewi. Dan sekarang dirimu malu-maluin aku dengan cerita husain yang memiliki impian nyata jauh dari pada aku yang sampai saat ini belum bisa mikir. bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here