100 Hari Setelah Aku Mati Part 101 : Dewi Dan Husain

0
89
bukukita.com

Padahal jika di tengok maskapai penerbangannya pun merupakan lambing burung kebanggaan Indonesia. Aku menggenggam tangan risa yang terbalut sarung tangan beludru dan aku merasa kembali ke beberapa tahun lalu ketika risa mengantar aku ketika hendak berangkat ke Melbourne untuk kali pertama namun bedanya kali ini semuanya di balik. aku menjadi lakon yang mengantar risa kembali ke tanah air. Risa meminta aku agar segera menyelesaikan studi aku dan jangan terlalu lama karena dia bilang di atakut aku tertarik dengan perempuan bule. Aku pun meyakinkan risa akan segera menyelesaikan studi aku di ausie.

Risa pun menitipkan aku kepada dewi dan dewi pun tersenyum kepada risa. Perpisahan itu berjalan singkat dan tidak ada derai tangis karena memang tidak ada perasaan mengganjal di hati kami. Risa pulang dengan membawa bunga-bunga hati yang bermekaran di batinnya. Dewi pun meledek aku karena aku akan segera menikah. Aku pun kaget dewi bisa tau karena aku tidak cerita pada nya. Dewi tersenyum sambil melempar pandangan nya ke jendela taxi yang kami naiki dan sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Ketika aku tanya ada apa dengan dewi? dewi hanya tersenyum, dia mengatakan jika dirinya senang melihat aku akan menikah namun sekaligus iri juga kepada kami. Dewi pun mengangguk sambil matanya berair.

Aku mengangguk dan akhir-akhir ini dewi terlihat aneh dimana dia sering murung tanpa alasan. beberapa kali aku ingin menanyakan namun sering terhalang kesibukan dan kemarin risa juga berkunjung membuat aku mengesampingkan rasa penasaran aku pada dewi ketika itu. rasanya baru kali ini kami saling diam seperti ada masalah diantara kami. Aku pun bilang pada dewi jika dia ada masalah sebaiknya cerita. Namun dewi masih diam dan raut wajahnya masih mengisyaratkan kesedihan. Dia sangat tidak biasa untuk gadis luar biasa bersikap demikian dan sejak awal bulan syawal dia selalu tampak murung. Tidak lama aku menepuk pundak nya dan menanyakan apa yang terjadi dengan nya. Dewi bilang dia bingung mau memulai darimana dan aku menyuruhnya pelan-pelan saja.

Teh hitam pekata dengan seujung sendok gula pasir, bahkan aku hapal dengan takaran the kesukaan dewi. Aku sudah sangat mengenalnya tapi sikap nya barusan membuat aku merasa belum terlalu dalam mengenal dewi. Aku buru-buru mengaduk the beraroma melati itu dan menenteng nampan berisi 2 cangkir keramik menuju ruang baca. Tempat dimana aku dan dewi sering ngobrol bareng. Aku menyuruh dewi meminum the buatan aku. Dewi tidak langsung meminumnya dan dia hanya memainkan jari-jarinya membuat pola memutar di bibir gelas. Dewi mengatakan jika dia sedang kangen dengan mas Husain.

Husain adalah sosok yang pernah di ceritakan dewi dan dia adalah laki-laki yang pernah dekat dengan nya, bahkan dewi dan Husain bisa di sebut pasangan kekasih namun berakhir tragis. dewi menceritakan jika husai meninggal tanpa memberitahukan penyebabnya. Akhir-akhir ini dewi kanegn dengan sosok mas Husain, bahkan dia bilang aku dan risa membuat iri karena kami bisa berkomunikasi dengan orang di kampung halaman. Dewi kembali menunduk dan terlihat pertahanannya sudah jebol dan kesabaran nya mungkin sudah di puncaknya. Kesedihan nya tidak tertahan hingga air mata nya keluar tidak terbendung. Dewi menangis dan ini merupakan hal yang begitu langka. Gadis berhati baja ini ternyata mampu cair dengan kenangan mantan nya yang dulu pernah mengisi hidupnya.

Aku pun ikut merasakan kesedihan yang dewi alami sekarang dan rasa rindu kepada orang yang tidak akan pernah kembali benar-benar menyiksa batin. Dan apa yang sudah di alami dewi tidak bisa di bandingkan dengan apa yang pernah aku alami. Mungkin beban yang di tanggung nya 2 kali lebih pedih daripada apa yang menimpa aku. Dia anak yang belum pernah mendapat kasih sayang oleh kedua orang tua nya. Anak terbuang yang sejak bayi diasuh oleh orang lain. Dewi itu ibarat telur merpati yang di erami puyuh dan harusnya dia tidak bisa terbang karena induk puyuh tidak bisa terbang jauh dan mengajarinya untuk terbang tinggi namun anak merpati yang kuat itu bisa membuktikan dia bisa terbang lebih tinggi daripada burung manapun. Namun meskipun begitu aku berduka atas apa yang di alami dewi.

Aku terduduk merapat kesamping dewi dan menepuk pelan pundaknya dimana tangis nya tertahan. Dia tidak termehek-mehek seperti tangis wanita pada umumnya. Dia tidak ingin kesedihan nya mengganggu dan di ketahui orang lain dimana ciri dari orang yang kuat dan low profile. Namun di dunia ini tidak ada orang yang terlalu kuat dan dewi tetaplah perempuan lembut yang malang. Dewi sedikit bergetar dan tangan nya sedikit mengepal dan dengan cepat membuat gerakan mengelap wajahnya yang bersimbah air mata. Dia menegakan kepalanya dan memandang aku. Dia sosok yang lebih berarti dari siapapun dan dia bilang jika mas husain tidak ada di sini, dewi tidak akan sampai sini dan jika tidak ada dia, sekarang mungkin aku hanya menjadi perempuan kuper yang kerjanya ngurung diri di kamar. Dan tidak mungkin berani bisa kuliah disini. Karena dulu nya aku merupakan wanita penakut yang minder dan selalu di bully. Setelah itu muncul lah mahasiswa bernama husain.

Aku mendengarkan suara dewi semakin lemah dan dewi pun kembali tenggelam dalam tangisan. Dia menutup wajahnya dengan bantal sofa. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here