10 Pemain Sepak Bola yang Mengkhianati Pelatihnya

0
82

Sebuah tim tak akan bergerak maju jika salah satu komponennya tak sanggup berfungsi dengan baik. Dalam sepak bola, keharmonisan tim merupakan sesuatu yang harus dijaga. Akan tetapi, apa jadinya jika ada seorang pemain yang tak menghormati pelatihnya, berikut rangkuman dari kami…

# Wayne Rooney & Sir Alex Ferguson

Top scorer sepanjang masa Manchester United dan tim nasional Inggris memang dibesarkan oleh Sir Alex Ferguson, tapi itu tak berarti bapak-anak ini tak pernah bermasalah. Hendak digodok menjadi kapten masa depan United, Rooney malah meminta untuk dijual antara 2010 hingga 2012. Hal tersebut diungkapkan Ferguson pada 2013, yang mengungkapkan Wazza mengatakannya pada hari setelah memenangi Liga Inggris. “Kadang aku perlu mendisiplinkannya,” ujar Fergie.

# Robin van Persie & Arsene Wenger

Arsene Wenger diakui Robin van Persie sebagai ayah yang membesarkan namanya di Arsenal. Wenger pula yang memutuskan merekrutnya dari Feyenoord. Akan tetapi, lambat laun ia merasa frustasi karena tak kunjung mendapatkan trofi Liga Inggris. Pada akhir musim 2011/12, musim ketika ia nyaris seorang diri membawa Arsenal ke posisi Liga Champions, ia memutuskan hijrah ke klub rival Manchester United setahun jelang kontraknya tuntas.

# Lionel Messi & Pep Guardiola

Ada perdebatan bahwa Lionel Messi lebih besar daripada siapa pun di Barcelona. Ketika raksasa Zlatan Ibrahimovic tiba di klub Catalan pada 2010, posisi Messi sebagai penyerang sentral terancam. Ibra belakangan berkisah ke media, “Pelatih Pep Guardiola terlalu nurut ke Messi.” Ada ujar-ujar yang menyatakan Messi mengancam Guardiola jika Ibra ditaruh sebagai penyerang tengah dan ia di sayap kanan. Messi menginginkan posisi sentral di lini penyerangan. Ibra hanya bertahan semusim berseragam Blaugrana.

# Alex Kolinko & Trevor Francis

Kiper Crystal Palace Alex Kolinko tertawa dalam laga melawan Bradford ada 2002. Sang pelatih Trevor Francis kemudian memukul wajah Kolinko dengan telak. Merasa diperlakukan tak manusiawi, Kolinko memutuskan tak akan bermain lagi bagi Palace. Kiper asal Latvia tersebut berujar, “Aku ingin bertahan di Crystal Palace hanya jika Trevor (Francis) pergi. Dia memukulku, aku bisa saja mengalami patah hidung.”

# Ian Wright & Bruce Rioch

Mencetak 185 gol dalam tujuh tahun bersama Arsenal mungkin akan dianggap sebagai tahun-tahun indah bagi Ian Wright, tapi siapa sangka, ia pernah ingin kabur dari klub tersebut. Satu-satunya alasan ialah, masalahnya dengan pelatih sebelum Arsene Wenger, Bruce Rioch. “Masalah itu tidak akan mampu diperbaiki. Hubungan kita memburuk hingga aku meminta dijual oleh klub,” ucapnya. Pada akhirnya Rioch hanya melatih di Highbury selama tahun, digantikan oleh Wenger.

# Pierre van Hooijdonk & Dave Bassett

Pierre van Hooijdonk punya masa-masa yang ingin dilupakan saat memperkuat Nottingham Forest pada musim 1997/98. Ia marah dengan manajer Dave Bassett yang menolak menjualnya meski sudah ada tawaran besar dari Newcastle. Bassett memagari van Hooijdonk dengan harga yang tak masuk akal. “Dia itu tikus. Ular. Yang terus mengatakan hal buruk tentangku. Dia bukan pelatih yang bagus,” kecamnya.

# John Terry & Andre Villas-Boas

Meraih sukses di FC Porto bukan berarti berjalan dengan mudah bagi Andre Villas-Boas di Chelsea. Memiliki jejak karier yang sama dengan Jose Mourinho ternyata tak membuat AVB memenangi hati pemain-pemain Chelsea. Problem terbesar ialah bahwa ia “masih seumuran” dengan beberapa pemain senior tim, termasuk kapten John Terry, Frank Lampard, dan Didier Drogba. Ketika hasil semakin memburuk di bulan Februari 2012, AVB harus kehilangan jabatannya.

# Rodney Marsh & Tony Book

Rodney Marsh yang sedang menjabat kapten di Manchester City waktu itu tidak punya hormat terhadap pelatih Tony Book yang baru datang. Sang pelatih kemudian meletakkanya dalam daftar jual dan menghukumnya dengan berlatih bersama tim cadangan.

# Carlos Tevez & Roberto Mancini

Dalam sebuah pertandingan Liga Champions melawan Bayern Munich, Carlos Tevez memulai permusuhan dengan pelatih Roberto Mancini. Dua minggu kemudian ia kabur ke Argentina. Mancini sendiri enggan memainkannya lagi setelah menolak melakukan pemanasan dalam laga tersebut. “Sewaktu ia baru adu mulut dengan Edin Dzeko, ia menoleh padaku dan memintaku untuk melakukan pemanasan. Ia menganggapku seperti anjing,” beber Tevez. Di akhir musim, Tevez mendapat kesempatan kedua dengan mengawali beberapa pertandingan Manchester City.

# Skuad Leicester City & Claudio Ranieri

Kisah Cinderella terbesar dalam sejarah Inggris, Leicester City yang juara liga, harus berujung pahit. Manajer Claudio Ranieri dipecat hanya 9 bulan setelah mendapat trofi Liga. Beredar kabar bahwa pemecatannya didalangi oleh para pemain yang kecewa dengan metode latihan Ranieri pada musim setelah Leicester juara.

Di antara berbagai kasus di atas, ada yang berujung rekonsiliasi, dan sebaliknya, ada yang awet berkonfilik. Satu hal lagi, masalah keharmonisan ternyata juga bisa terjadi di tim terbaik dunia, atau bahkan dalam tim yang sedang dalam masa jaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here