10 Pemain Besar yang Pernah Tersingkir dari Barcelona

0
112

Konsekuensi dari keinginan untuk terus diperkuat pemain-pemain terbaik dunia, beberapa pemain yang sejatinya juga memiliki kemampuan yahud jadi tak terpakai. Berikut pemain-pemain besar yang pernah tersingkir dari standar tinggi Barcelona…

Bojan Krkic

Bila ada pemain kelas dunia yang mencapai puncak performa pada usia 18 tahun, Bojan Krkic-lah orangnya. Di musim debut 2007/08, ia mampu mengemas 31 penampilan dan 10 gol di liga, sebuah catatan yang membuat para penggemar berangan-angan tentang duet maut bersama Lionel Messi. Sayangnya, penampilannya terus menurun hingga terpaksa dilepas Barcelona ke AS Roma pada 2011 saat usianya baru 21 tahun. Kini, dalam usia 28 tahun, ia malah menjadi cadangan di Stoke City yang berlaga di divisi Championship.

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan Ibrahimovic terbukti mampu bersinar di mana pun ia berada. Setelah menjadi bintang di Ajax, Juventus, dan Inter Milan, ia mencoba peruntungan di Barcelona yang kala itu diasuh Pep Guardiola. Meski punya kapabilitas yang dipunyai striker terbaik dunia, Ibra tak sanggup nyetel dengan gaya main Barcelona. Masalah pribadinya dengan sang pelatih, ditambah tuntutan Lionel Messi untuk menyingkirkannya membuat legenda Swedia tersebut terpaksa cabut walau baru semusim di Catalan.

Thiago Alcantara

Mencuat di Barcelona pada masa-masa akhir rezim Pep Guardiola, Thiago Alcantara pada awalnya diidentifikasi penggemar sebagai penerus Xavi Hernandez. Namun, setelah memenangi gelar liga bersama Tito Vilanova pada 2012/13, ia kehilangan kebahagiaan saat membela klubnya sejak masa muda tersebut. Ia diizinkan pindah oleh klub pada 2013 ke Bayern Munich, tepat saat Pep Guardiola memulai menjalani kontrak di klub Bavaria.

Pepe Reina

Pepe Reina mungkin lebih diingat sebagai penjaga gawang utama Liverpool dan Napoli. Namun, karier cemerlangnya di Inggris, Italia, dan timnas Spanyol tak akan terjadi bila ia tak menimba ilmu di Barcelona. Pada usia 18 tahun, ia menjalani debut bersama Barcelona yang kala itu dipimpin Louis van Gaal. Ia terus menjadi pilihan kedua bagi klub Catalan hingga 2002. Musim panas itu, Barca mendatangkan kiper pelapis baru asal Jerman bernama Robert Enke, yang membuat Reina dipersilakan mencari klub baru.

Mauro Icardi

Kini didambakan seluruh klub besar Eropa berkat penampilan gaharnya untuk Inter Milan, Mauro Icardi pertama kali menginjak Eropa dengan berlabuh di Barcelona. Ia bergabung dengan La Masia saat usianya 15 tahun pada 2008, dan segera menyadari masa depannya tidak berada di klub Spanyol. Ia kemudian pindah ke Sampdoria pada Januari 2011, dan setahun kemudian sudah mampu membuat publik Italia terpukau. Sejak dipinang Inter Milan pada 2013, ia tak pernah mengingat masa lalu lagi.

Cesc Fabregas

Sebagai alumnus La Masia yang seangkatan dengan Gerard Pique dan Lionel Messi, gelandang Chelsea tersebut sebenarnya punya kemampuan untuk masuk dalam standar tinggi skuad Barcelona. Sayangnya, ia menjadi satu-satunya pemain dalam daftar ini yang meninggalkan Barca dua kali. Pertama saat dilamar Arsene Wenger pada 2003, saat usianya 16 tahun, kedua saat tawaran dari Chelsea datang pada 2014, saat ia sudah tiga tahun “balikan” bersama Barca.

Gerard Pique

Gerard Pique memiliki rekam karier yang mirip dengan Cesc Fabregas, yakni sempat menjalani “pengasingan” di klub raksasa Inggris. Semasa remaja, ia pernah dilepas oleh Barcelona. Pada 2004 hingga 2008, ia menjalani masa-masa magang di Manchester United, yang saat itu dikawal Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand. Pep Guardiola yang baru ditunjuk jadi pelatih senior Barcelona segera memutuskan memanggil kembali bek jangkung, yang kemudian menjelma sebagai salah satu bek terbaik dunia hingga saat ini.

Thiago Motta

Pemain blasteran Brasil-Italia ini memang dikenal sebagai kunci keberhasilan Inter Milan mengalahkan Barcelona pada 2009/10 dalam duel Guardiola-Mourinho, tetapi tak banyak yang tahu bahwa tiga musim sebelumnya ia masih membela Barcelona. Sebagai pemain yang meniti karier di Barcelona B, ia terhitung gagal menembus skuad utama Barcelona. Tak pernah menembus 24 pertandingan selama enam musim di klub Catalan, sang gelandang bertahan menyeberag ke Atletico Madrid pada 2007.

Yaya Toure

Yaya Toure merupakan salah satu anggota utama saat Pep Guardiola melakukan perombakan di Barcelona pada 2008. Namun, mengingat pos gelandang serang sudah pasti menjadi milik Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, ia selalu tampil lebih defensif di Blaugrana. Bahkan, di final Liga Champions 2008/09, ia bermain sebagai bek tengah. Menginginkan posisi yang lebih ofensif, ia memutuskan pindah ke Manchester City pada 2010, sebuah keputusan yang kelak mengantarkannya meraih gelar top scorer Liga Inggris.

Hector Bellerin

Bek kanan ini mungkin terinspirasi kisah Cesc Fabregas, yang pindah ke Arsenal dari La Masia untuk mencari jam terbang di tim utama lebih banyak. Pindah di usia yang sama dengan Fabregas, 16 tahun, Bellerin meninggalkan La Masia untuk bergabung dengan tim muda Arsenal. Kelak, Arsene Wenger akan memanggil dirinya tatkala tim utama kekurangan bek kanan, dan sejak saat itu ia selalu jadi pilihan pertama. Dengan usia masih menginjak 23 tahun, pemberitaannya kembali ke klub masa kecil masih santer beredar.

Namun, meski pemain-pemain di atas tak sanggup bersinar di Camp Nou, Barcelona masih tetap diakui sebagai salah satu tim terhebat di dunia. Jadi, roda kehidupan itu pasti akan terus berputar, menyingkirkan yang jelek dan memunculkan yang baik…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here