10 Momen Balas Dendam di Sepak Bola yang Dicatat Sejarah

0
162

Sepak bola diperagakan oleh para aktor yang punya berbagai watak. Tak jarang, aktor-aktor yang bersinggungan punya masalah pribadi yang membuat masing-masing pihak merasa perlu mengkonfrontasi. Berikut 10 momen permusuhan berbalut dendam yang terekam sejarah…

# Cristiano Ronaldo dan Sepp Blatter
Sepp Blatter yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden FIFA berujar dalam sebuah wawancara di Oxford, bahwa bak Ronaldo maupun Lionel Messi ialah pemain fenomenal. Ia menyebut Messi sebagai “bocah baik”, sebelum mengatakan “salah satu dari mereka lebih peduli pada gaya rambut” saat merefernsikan Ronaldo. Beberapa hari kemudian, saat Ronaldo mencetak gol, ia merayakannya dengan gerakan penghormatan. Tak lain dan tak bukan, pose ini ia lakukan sebagai upaya satir ke Sepp Blatter.

# Zlatan Ibrahimovic dan Julio Cesar
Saat itu tahun 2012 dalam Derbi Milan. Atmosfer di Giuseppe Meazza mencengangkan dan Zlatan Ibrahimovic punya kesempatan untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui penalti. Namun, dia mendapat konfrontasi dari kiper gaek Inter, Julio Cesar. Kiper asal Brasil tersebut mendekati Ibra, menatap matanya, dan mencoba memainkan pikiran Ibra. “Tembaklah dengan keras ke tengah gawang,” teriak Cesar. Dan, setelah eksekusi mendatar ke pojok kanan bawahnya menjadi gol,, Ibra berkata, “Tidak, tapi aku tetap mencetak gol.”

# Ruud van Nistelrooy
Dalam sebuah pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2006 melawan Andorra, striker utama Belanda gagal mengeksekusi penalti. Seorang bek Andorra, Antoni Lima, merasa sangat logis bila berlari kea rah Ruudtje dan tertawa di depan mukanya. Sayangnya, beberapa saat kemudian Ruudtje mencetak gol, berlari 20 yard demi berada di dekat Lima, untuk kemudian merentangkan lengan seperti pemenang perang. Kartu kuning untuk penyerang Manchester United.

# Manuel Neuer dan Lionel Messi
Manuel Neuer telah berpengalaman mencegah Lionel Messi membobol gawangnya dalam banyak kesempatan, terutama pada final Piala Dunia 2014. “Aku menaruh hormat pada Messi, tetapi penting untuk menunjukkan kemampuan saat bertanding dan menunjukkan padanya siapa bosnya,” ujarnya sebelum semifinal Liga Champions 2014/15 yang mempertemukan Bayern Munich dengan Barcelona. Pada akhirnya, Messi mampu mempermalukan Neuer dengan membobolnya dua kali di Camp Nou, termasuk dengan menjungkalkan Jerome Boateng.

# Didier Zokora dan Emre
Konfrontasi fisik antara Didier Zokora dan Emre Belozoglu dalam laga Trabzonspor melawan Fenerbahce ternyata mempunyai penyebab dan akibat yang panjang. Zokora menuduh Emre telah menghinda secara rasis sepanjang pertandingan. Entah karma atau bukan, pada pertemuan kedua klub berikutnya, Emre menolak disalami oleh Zokora, dan mendapat berbagai macam hajaran dari seluruh tim Trabszonspor. Ia juga mendapat tendangan mematikan di bagian yang “semua pria di dunia akan kesakitan” oleh Zokora.

# Roy Keane dan Alf Inge Haaland
Temperamen Roy Keane amat terkenal pada masanya. Pada 1997, Keane dan Manchester United kalah 0-1 dari Leeds United, sebuah laga yang sempat membuat Keane tersungkur dan diteriaki Alf-Inge Haaland agar jangan pura-pura cedera. Faktanya, Keane memang cedera dan menghabiskan tahun di ruang perawatan. Empat tahun kemudian, Keane menemukan momentum. Pada menit terakhir Derby Manchester (Haaland sudah pindah ke Manchester City), Keane dengan kekuatan penuh menerjang lutut Haaland. Keane sendiri mengakui tekel itu ia tujukan untuk mengakhiri karier Haaland, dan untuk balas dendam.

# Layvin Kurzawa dan Swedia
Karma bisa datang dalam sekejap. Bek kiri Perancis U-21 mencetak gol yang membuat timnya di ambang lolos ke Euro U-21 2015, yang ia rayakan dengan memberi gerakan hormat pada salah seorang pemain Swedia. Masalahnya, Swedia membalas dengan cepat, dan mempermalukan Perancis yang gagal lolos, terutama Kurzawa. Seluruh tim Swedia langsung menaruh hormat kepada Kurzawa, termasuk ketika takdir menuntun mereka menjadi juara di Euro U-21 2015.

# Perayaan Penalti Pemain Amatir
Sebuah video amatir sebuah pertandingan yang tampaknya dihelat di lapangan American Football, sebuah penalti sedang akan dieksekusi. Penjaga gawang melakukan psy war dengan bersalto-berjingkrak tak karuan di garis gawang. Ketika penalti itu menjadi gol, giliran sang eksekutor yang meniru aksi sang kiper sebagai balasan.

# Dante dan Ronaldo
Wolfsburg dan Dante sedang unggul 2-0 hasil kemenangan di leg pertama perempat final Liga Champions 2015/16. Dante mengumbar psy-war dengan mengatakan, lebih baik ia menyaksikan anaknya daripada menonton Cristiano Ronaldo bermain. Walhasil, Ronaldo dan Real Madrid mengamuk dan membalikkan keadaan menjadi 3-2 berkati hattrick sang kapten Portugal.

# Cristiano Ronaldo dan Frank Lampard
Liga Inggris pernah merasakan duel antara dua gelandang paling produktif sepanjang sejarah di sana. Siapa sangka, duel yang terjadi bukan tentang adu ketajaman, melainkan adu kekasaran! Meski begitu kita tetap dapat melihat sikap ksatria dari mereka berdua, saat tak ada satu pun di antara mereka yang melanjutkan “pertengkaran di luar lapangan.

Beberapa di atas cuma emosi sesaat, beberapa lainnya merupakan pendaman emosi bertahun-tahun, dan sepak bola akan abadi selamanya. Barangkali football lovers punya contoh balas dendam yang lebih epik di sepak bola, boleh lah dibagi di kolom comment..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here