10 Blunder Fatal Pemain yang Tidak Akan Dilupakan Dunia

0
246

Ada banyak kisah sukses di lapangan, ada pula kisah jeblok yang mengiringinya. Beberapa pemain di bawah ini mungkin pernah berjaya, tapi mereka pernah berada di titik terendah. Berikut momen terkelam beberapa pemain yang dunia tak akan pernah lupa:

1. Antoine Griezmann di final Liga Champions 2015/2016

Pada menit 46 saat kedudukan masih 1-0 untuk keunggulan Real Madrid, kubu asuhan Diego Simeone mendapat hadiah penalti. Los Cholchoneros mempunyai kesempatan mengejar defisit di awal babk kedua. Namun sayang, Antoine Griezmann yang ditunjuk menjadi eksekutor malah mengantar bola itu ke mistar gawang. Madrid melanjutkan laga dengan percaya diri dan memukul lawan sekotanya itu di babak tos-tosan dan memenangkan Liga Champions musim itu.

2. Oliver Kahn di final Piala Dunia 2002

Kemenangan Brasil di Piala Dunia 2002 ditentukan oleh blunder fatal kiper legendaris Jerman Oliver Kahn. Tendangan rendah Rivaldo dari depan kotak penalti seharusnya mampu diamankan King Kahn dengan mudah di hari biasa. Nahas, di hari akbar tersebut, tangkapannya luput dan bola bergulir ke arah Ronaldo. Striker buas itu mencocor bola, dan pada gilirannya Brasil terus menerus menguasai laga. Piala Dunia edisi itu diakhiri dengan Brasil yang mencaplok gelar kelimanya.

3. Gonzalo Higuain di final Copa America 2015

Argentina memburu gelar untuk dipersembahkan kepada Lionel Messi. Kesempatan itu datang di Copa America 2015. Menghadapi tuan rumah Chile di laga final, Messi sebenarnya sudah mempersembahkan penalti pertama bagi negaranya di babak adu penalti. Sungguh sayang, sepakan Gonzalo Higuain meleset tinggi di tendangan kedua. Alhasil, Chile mengambil kesempatan dan menceploskan empat gol di babak mendebarkan itu untuk meraih gelar juara di kandang sendiri.

4. Zinedine Zidane di final Piala Dunia 2006

Zinedine Zidane sebenarnya mengawali laga dengan mulus: membobol Gianluigi Buffon dari titik putih di menit 7. Seluruh dunia geger saat di babak ekstra, bahkan ketika dia tidak sedang memegang bola, pria plontos itu menanduk dada Marco Materazzi. Pembelaan apa pun dari kapten Perancis itu tak mempan mengingat dirinya mendapat kartu merah, dan timnya kalah pada babak adu penalti dari Italia.

5. Steven Gerrard di laga vs Chelsea pada Liga Inggris 2013/14

Liverpool sedang terbang di era terbaik Brendan Rodgers: memuncaki klasemen 11 kemenangan beruntun dan 16 laga nirkekalahan. Jika meraih tiga poin saat dikunjungi Chelsea-nya Jose Mourinho di pekan 36, peluang The Reds menjuarai liga untuk pertama kali dalam 25 tahun akan semakin terbuka. Malang tak dapat ditolak, kapten mereka sendiri yang meruntuhkan harapan itu. Steven Gerrard terpeleset di awal babak kedua, secara tidak langsung memberikan kemenangan ke The Blues. Di akhir musim, mereka tersalip Manchester City.

6. Arjen Robben dan Bastian Schweinsteiger di final Liga Champions 2011/2012

Bayern Munich memanggungkan final Liga Champions di kandang mereka sendiri. Seharusnya, kapten Philip Lahm yang mengangkat trofi. Alih-alih demikian, bayangan itu pupus oleh karena kenahasan di sepanjang pertandingan. Penalti Arjen Robben digagalkan Petr Cech di babak ekstra, yang membuat laga harus diselesaikan melalui adu penalti. Di babak ini, keberuntungan tidak kunjung menaungi Bavaria. Bastian Schweinsteiger gagal di sepakan terakhir, Didier Drogba di kubu seberang sukses mengeksekusi. Liga Champions di pelupuk mata dipeluk tim tamu.

7. John Terry di final Liga Champions 2007/08

All England Final yang bersejarah dihelat di malam hujan berangin di Luzhniki. Sundulan Cristiano Ronaldo dibalas sontekan Frank Lampard. Adu penalti jadi penentu. CR7 sudah gagal di sepakan ketiga, sehingga jika John Terry sukses, The Blues akan mengangkat trofi kontinental pertama. Apes, lapangan licin dan sang kapten gagal berpijak secara sempurna. Ia terpeleseta, bola melenting jauh ke samping. Kegagalan ini jadi pelecut bagi Manchester United, yang pada akhirnya memenangi gelar kedua Sir Alex di Eropa.

8. Lionel Messi di final Copa America Centenario 2016

Sang pemain terbaik dunia mencari mahkota dalam perayaan seabad Copa America. Laga ini adalah final ketiga dalam tiga tahun bagi timnas Argentina. Ketika laga final melawan Chile terpaksa berlanjut sampai adu penalti, dunia berharap Messi mampu jadi penentu. Harapan itu menjadi nyata, tapi dalam konotasi negatif. La Pulga yang jadi penendang pertama malah gagal menceploskan bola. Alhasil, pendulum mengarah ke Chile, yang kemudian meraih gelar kedua beruntun. Messi sampai memutuskan pensiun seusai laga.

9. Loris Karius di final Liga Champions 2018

Tidak ada mimpi lebih buruk bagi seorang kiper selain blunder yang menyebabkan lawan mencetak gol. Karius melakukannya, di pertandingan final Liga Champions, DUA KALI. Liverpool tidak terlihat tergembosi sedari awal laga. Tiba-tiba, pada menit 51, Karim Benzema membobol gawang The Reds, ia memotong lemparan Karius yang sangat lemah. Belum cukup di situ, pada menit 83, sepakan jauh Gareth Bale terlepas dari pelukannya. Ia jatuh tertelungkup dan mengatakan pada media tiga bulan kemudian: aku masih sering mimpi buruk tentang hal itu.

10. Roberto Baggio di final Piala Dunia 1994

Bila ada orang Italia yang dirasa pantas menjadi penentu gelar juara dunia, Roberto Baggio lah orangnya. The Divine Ponytail mendapat kesempatan itu dalam babak adu penalti laga final Piala Dunia 1994. Pertandingan di siang hari bolong di Stadion Rose Bowl, Pasadena tersebut seharusnya menjadi sukacita bagi Italia. Tak dinyana, tendangan Baggio melayang di udara, paling tinggi di antara tendangan penalti terburuk lainnya. Gelar juara jadi direngkuh oleh Brasil untuk keempat kalinya.

 

Hidup atlet sudah cukup memilukan jika mengingat memori kegagalan mereka. Jadi, meskipun idolamu sedang tampil sangat buruk, jangan hujat mereka ya, football lovers

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here